Analisis Aktor dan Tata Kelola Berbasis Komunitas bersama Lebah Banten di Pantai Gope (Karangantu) Pesisir Banten
Main Article Content
Abstract
ABSTRAK
Studi ini mengkaji politik lingkungan dalam praktik rehabilitasi dan penanaman mangrove oleh Komunitas Lebah Banten di Pantai Gope (Karangantu), Kota Serang, pada 31 Mei 2026, menggunakan kerangka ekologi politik. Penelitian kualitatif berbasis studi kasus ini melakukan observasi partisipatif dan wawancara semi-terstruktur. Temuan menunjukkan tiga dimensi utama: pertama, Lebah Banten berperan sebagai aktor tata kelola ekosistem yang mengisi kekosongan negara setelah kegagalan program rehabilitasi mangrove nasional (BRGM hanya mencapai 21,6% dari target 600.000 ha). Kedua, struktur keanggotaan yang inklusif—mencakup berbagai kelompok usia dan wilayah—menunjukkan modal sosial kuat yang menopang tata kelola komunitas. Ketiga, pengetahuan teknis dan ekologis yang diwariskan lintas generasi (mis. teknik polybag, analisis gelombang, perlindungan bibit dari kepiting) berfungsi sebagai kearifan lokal yang menantang narasi rehabilitasi top-down negara. Penanaman 900 bibit pada 31 Mei 2026 dan partisipasi spontan warga menegaskan bahwa lokasi ini merupakan arena kontestasi politik lingkungan yang dinamis, bukan sekadar upacara reboisasi. Studi ini menyoroti pentingnya peran komunitas lokal dan pengetahuan tradisional dalam strategi rehabilitasi pesisir.
ABSTRACT
This study examines environmental politics in mangrove rehabilitation and planting carried out by the Lebah Banten Community at Pantai Gope (Karangantu), Serang City, on 31 May 2026, using a political ecology framework. This qualitative case study employed participatory observation and semi-structured interviews. Findings reveal three main dimensions: first, Lebah Banten acts as an ecosystem governance actor filling the governance gap left by the state after the national mangrove rehabilitation program failed to meet its target (BRGM reached only 21.6% of the 600,000-ha goal). Second, an inclusive membership structure—spanning ages and regions—demonstrates strong social capital underpinning community governance. Third, intergenerational technical and ecological knowledge (e.g., polybag techniques, wave analysis, protecting seedlings from crabs) functions as local wisdom that challenges the state’s top-down rehabilitation narrative. Planting 900 mangrove seedlings on 31 May 2026, together with spontaneous participation by residents, confirms that this rehabilitation site is a dynamic arena of environmental contestation rather than merely a ceremonial reforestation effort. The study highlights the crucial role of local communities and traditional knowledge in coastal rehabilitation strategies.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
References
Agrawal, A. (2005). Environmentality: Technologies of Government and the Making of Subjects. Duke University Press.
ANTARA News. (2025). Pemerintah Lakukan Kajian, Tetapkan Target Baru Rehabilitasi Mangrove. https://antaranews.com/berita/4975969.
Benjaminsen, T. A., & Svarstad, H. (2021). Political Ecology: Critical Engagement. Palgrave Macmillan.
Blaikie, P., & Brookfield, H. (1987). Land Degradation and Society. Methuen.
Ecobiz Asia. (2025). Dari BRGM ke Kemenhut, Strategi Rehabilitasi Mangrove Butuh Konsistensi. https://ecobiz.asia.
Forsyth, T. (2003). Critical Political Ecology: The Politics of Environmental Science. Routledge.
Indonesian Conference of Maritime. (2024). Kondisi Ekosistem Mangrove Kawasan Pantai Karangantu. Prosiding ICOMAR.
Journal of Tropical Marine Science. (2025). Perubahan Luas Mangrove di Pesisir Kota Serang Tahun 2011–2021. journal.ubb.ac.id/jtms/article/download/4058/2676.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2024). Data Tutupan Hutan Mangrove Nasional 2024. KLHK.
Kompas/Lestari. (2024). Masalah Mendasar Rehabilitasi Mangrove. https://lestari.kompas.com/read/2024/02/29/084608586.
Maksum, M.J.S., Mutammimah, N.C. (2025) Kepemimpinan Transformatif Dan Komitmen Organisasi, Lima Aksara, Jombang
Maksum, M.J.S. (2026). Budaya Organisasi, Cetakan 1, Cirebont, Lovrinz Publishing
Mongabay Indonesia. (2023). Studi: Target Program Restorasi Mangrove Mendapat Kendala Kesesuaian Lahan. https://mongabay.co.id.
Mongabay Indonesia. (2025). Opini: Menilik Strategi Rehabilitasi Mangrove yang Efisien. https://mongabay.co.id/2025/09/22.
Ostrom, E. (1990). Governing the Commons: The Evolution of Institutions for Collective Action. Cambridge University Press.
Peet, R., & Watts, M. (1996). Liberation Ecologies: Environment, Development, Social Movements. Routledge.
Pellizzoni, L. (2011). Governing through disorder: Neoliberal environmental governance and social theory. Global Environmental Change, 21(3), 795–803.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 120 Tahun 2020 tentang Badan Restorasi Gambut dan Mangrove.
Portal Nusantara. (2025). MAPALA GEMPA UNBAJA Lakukan Ekspedisi Penanaman Mangrove di Pantai Gope Karang Antu. https://portalnusantara.id.
Robbins, P. (2012). Political Ecology: A Critical Introduction (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
Schlosberg, D. (2007). Defining Environmental Justice: Theories, Movements, and Nature. Oxford University Press.
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 jo. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Validnews. (2024). Target Tinggi Rehabilitasi Mangrove Zonder Bukti. https://validnews.id.